Atlas Burung Indonesia

Era Rintisan

Pengerjaan atlas burung di Indonesia telah banyak dilakukan, baik di tingkat nasional maupun lokal. Rintisan pertama untuk tingkat nasional dimulai pada 1990 melalui pengerjaan Kukila Database. Sementara di tingkat lokal, berjalan pada 1999 melalui pengerjaan Proyek Atlas burung di Bandung.

Inisiasi pengerjaan atlas di tingkat nasional dipimpin oleh Derek Holmes, anggota Indonesian Ornithologist Society (IOS) sekaligus editor kepala pertama Kukila. Kukila Database menjadi tahap awal pengerjaan atlas, berupa pengompilasian catatan-catatan pengamatan berdasar bioregion. Dari tujuh bioregion yang dimiliki Indonesia, kompilasi catatan untuk Sulawesi menjadi yang pertama dipublikasikan melalui Sulawesi Bird Report (1990). Menyusul Sumatera (Sumatra Bird Report) enam tahun kemudian, dan Kalimantan Bird Report-2 di tahun berikutnya.

Setelah Kalimantan (terpublikasi pada 1997), seri bird report dalam Kukila tidak lagi muncul. Pengerjaan atlas lantas terhenti. Hal ini mungkin disebabkan oleh wafatnya Derek Holmes pada tahun 2000. Richard Noske selaku editor kepala Kukila yang baru mencoba untuk menginisiasi kembali pada tahun 2009, namun tidak berjalan.

Peta distribusi cucak kutilang, salah satu hasil Proyek Atlas Burung bandung yang dipimpin oleh Prof. Johan Iskandar (Universitas Padjadjaran).

Peta distribusi cucak kutilang di Kota Bandung, salah satu hasil Proyek Atlas yang dipimpin oleh Prof. Johan Iskandar (Universitas Padjadjaran).

Secara terpisah, pengerjaan atlas burung di tingkat lokal berjalan di Bandung pada 1999 dengan nama Proyek Atlas burung Bandung. Proyek Atlas yang dipimpin oleh Prof. Johan Iskandar (Universitas Padjadjaran) ini melibatkan mahasiswa didikan Prof. Johan, yang mengerjakannya sebagai tugas perkuliahan. Dari proyek atlas tersebut, 27 jenis burung dari sembilan taman kota di Bandung berhasil tercatat.