Atlas Burung Indonesia

Era ABI

Setelah rintisan yang dilakukan di Jogja, Semarang, dan Taman Nasional Baluran, pada 2013 lahir kesepakatan untuk mengerjakan atlas burung berskala nasional. Kesepakatan lahir dari diskusi yang dimoderasi oleh Swiss Winnasis dalam Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) III di Cangar, Taman Hutan Raya R. Soerjo (Jawa Timur), 31 Agustus 2013.

PPBI III Malang 2014

Peserta PPBI III, 2013. Foto oleh Budi Hermawan

Kesepakatan pengerjaan diawali dengan pembentukan sembilan simpul daerah, mencakup Sumatera, Jabodetabek, Bandung, Semarang, Jogja, Surabaya, Malang, Karasidenan Besuki, dan Nusa Tenggara. Imam Taufiqurrahman ditunjuk sebagai koordinator nasional.

Penyusunan tugas dan pembagian kerja yang lebih jelas baru kemudian diputuskan pada Pertemuan Pengamat Burung Indonesia IV di Semarang, Jawa Tengah, pada 2014. Dalam pertemuan, disepakati juga pembentukan tim kartografi dan tim analisa nasional. Tim kartografi terdiri atas Nurdin Setio Budi, Waskito Kukuh Wibowo, dan Mohammad Fahri Rohmad. Sementara tim analisa nasional terdiri dari Karyadi Baskoro, Muhammad Iqbal, dan Rudyanto.

Infografis progres pengerjaan Atlas Burung Indonesia dalam PPBI V, Bandung (2015)

Infografis progres pengerjaan Atlas Burung Indonesia dalam PPBI V, Bandung (2015)

Hasil pertama pengerjaan atlas disampaikan dalam PPBI V (2015) di Bandung, Jawa Barat. Data yang digunakan merupakan kontribusi dari empat simpul, yakni Jakarta, Semarang, Jogja, dan Surabaya. Kompilasi ini mencakup 439 titik pengamatan yang masuk dalam 40 grid. Berisi data dari 439 jenis burung, dengan keterlibatan sekitar 1.000 orang pengamat (kontributor).

Progres pengerjaan selanjutnya disampaikan dalam Konferensi Nasional Peneliti dan Pemerhati Burung di Indonesia II, Yogyakarta, 3-4 Februari 2016. Beberapa sesi diskusi berlangsung dalam agenda konferensi ini, menghasilkan kesepakatan penting, seperti pembentukan empat simpul baru di Sumatera, meliputi Aceh, Sumatera Barat, Jambi, dan Bengkulu, serta penetapan Ade Rahmat sebagai manajer data.

Setelah agenda konferensi, pertemuan maraton dilakukan di Yogyakarta. Sebagai hasil, pada 11 Februari 2016 diluncurkan lembar peta jenis Elang jawa sebagai produk pertama Atlas Burung Indonesia. Jenis yang menjadi Satwa Nasional Indonesia ini mengawali dimulainya pengerjaan lembar peta setiap jenis burung di Indonesia, yang jumlahnya mencapai lebih dari 1.600 jenis.

Rudyanto didampingi Karyadi Baskoro, selaku tim Analisa Nasional Atlas Burung Indonesia, menandatangani lembar peta Elang jawa dalam peluncurannya di Yogyakarta, 11 Februari 2016.

Rudyanto didampingi Karyadi Baskoro, dua dari tiga orang dalam tim Analisa Nasional Atlas Burung Indonesia, menandatangani lembar peta Elang jawa dalam peluncurannya di Yogyakarta, 11 Februari 2016.