Atlas Burung Indonesia

Tentang Atlas

Peta keanekaragaman hayati adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap negara, terutama oleh negara yang kaya akan keanekaragaman hayati seperti Indonesia, untuk pengelolaan kekayaan alam negara tersebut. Dengan keanekaragaman jenis satwa burung yang terbesar keempat di dunia setelah Kolumbia, Peru, dan Brazil, sudah seharusnya Indonesia memiliki peta sebaran setiap jenis burung yang ada di Indonesia. Selanjutnya peta-peta tersebut digabungkan menjadi satu dalam sebuah atlas yang kemudian dapat dijadikan salah satu referensi utama dalam upaya pengelolaan keanekaragaman jenis burung di Indonesia. Namun demikian, hingga saat ini Indonesia belum memiliki atlas burung seperti yang dimaksud.

Sejak dekade 90-an di Indonesia mulai bermunculan para pengamat burung (birdwatcher) di Indonesia, dan pertumbuhan jumlah pengamat burung tersebut mulai booming pada awal tahun 2000an. Jika di awal tahun 80an hanya ada kurang dari 10 kelompok pengamat burung, maka pada saat ini ada sekitar 90an kelompok yang tersebar di seluruh Indonesia. Walaupun jumlahnya masih kinim untuk ukuran negara seluas dan sekaya Indonesia, tetapi energi yang tumbuh ini sudah dapat menjadi bibit bagi munculnya gerakan citizen science untuk upaya pelestarian burung di alam.

Saat ini, upaya pembuatan atlas burung yang idenya sudah mulai muncul sejak tahun 2013, telah mampu menghimpun lebih dari 8.000 records untuk 649 jenis burung, yang datanya berasal dari 1.800an relawan kontributor. Kegiatan yang lantas diberi tag-line “Memetakan Burung, Menyatukan Nusantara” ini memang kegiatan berbasis relawan (voluntary based), dan bisa dikatakan inilah kegiatan sukarela terbesar di Indonesia sampai saat ini yang berkaitan dengan upaya pelestarian burung di alam.

Lantas, apa yang hendak diperoleh dari pembuatan atlas burung tersebut selain sebagai wadah penampung data yang dihasilkan oleh para pengamat burung di Indonesia? Seperti telah disebutkan di atas, atlas ini dapat menjadi salah satu referensi utama dalam upaya pengelolaan keanekaragaman jenis burung di Indonesia. Syarat utama dalam pengelolaan keanekaragaman hayati (termasuk burung) adalah mengetahui apa saja yang dimiliki dan di mana letaknya.

Apa dan di mana ini menjadi sangat penting terutama jika ada keterbatasan sumberdaya untuk melestarikan keanekaragaman hayati. Dengan mengetahui apa ada di mana, maka kita dapat memutuskan keanekaragaman hayati mana atau daerah mana yang perlu mendapat prioritas. Misalnya, jenis keanekaragaman hayati yang terancam punah layak diberi prioritas dibandingkan dengan keanekaragaman hayati yang masih “aman”. Atau daerah di mana banyak terdapat keanekaragaman hayati yang terancam punah serta unik, layak mendapat prioritas dibanding daerah yang masih atau sudah “aman”. Bagi Indonesia yang dilimpahi kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi tetapi hanya memiliki sumberdaya untuk upaya pelestraian alam yang relatif kecil (baik jumlah dana maupun jumlah orang/ahli), adanya atlas burung menjadi sangat penting sebagai alat untuk membantu para pengambil keputusan dalam mengalokasikan sumber daya bagi upaya pelesatrian burung di alam.

Saat ini, untuk kasus Indonesia, soal apa saja yang dimiliki masih jauh dari selesai, apalagi soal di mana letaknya. Eksplorasi ilmiah yang dilakukan jumlahnya juga masih sangat terbatas dengan berbagai alasan. Sementara saat ini ada ribuan pengamat burung yang peduli dan memiliki kemampuan untuk membantu menutupi kekurangan tersebut melalui gerakan citizen science seperti halnya pembuatan Atlas Burung Indonesia.

Walaupun relatif masih baru dan yang terlibat juga relatif masih sedikit dibandingkan dengan luas wilayah yang harus dicakup serta begitu banyaknya jenis burung di Indonesia, tetapi sudah ada beberapa peta yang bisa dikatakan jadi dan siap dilepas untuk dimanfaatkan oleh siapapun yang memerlukannya. Peta distribusi Elang jawa misalnya. Sang Garuda yang hanya terdapat di Pulau Jawa ini data penyebarannya bisa dikatakan telah lengkap, demikian pula dengan data beberapa jenis burung endemik Indonesia (jenis burung yang di dunia hanya ada di Indonesia saja), seperti Gelatik jawa, Trulek jawa, Jalak bali, Sikatan damar, dan Seriwang sangihe.

Selain untuk memperkuat data dan menambah pengetahuan, kegiatan Atlas Burung Indonesia yang diikuti oleh para relawan pengamat maupun peneliti burung ini diharapkan mampu menjadi ajang pertukaran data, pengetahuan dan gagasan. Kegiatan sperti ini diharapkan akan mampu menyatukan para peneliti dan pengamat burung di Indonesia yang pada akhirnya dapat memberikan sumbangan nyata bagi upaya pelestarian alam, khususnya burung, di Indonesia.